REVENUE ASSURANCE

Pada mulanya revenue assurance banyak diterapkan di Perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Dari penyedia jasa telekomunikasi revenue assurance berkembang ke bisnis perbankan karena aktivitas perbankan hampir semua tergantung dengan teknologi informasi dan menggunakan aplikasi perbankan. Namun, dalam prakteknya hampir semua bank menggunakan platform aplikasi yang berbeda. Sehingga munculah revenue assurance di perbankan dikarenakan perbedaan platform aplikasi antar bank yang bisa menyebabkan perbedaan waktu atau transaksinya. Saat ini revenue assurance juga berkembang di beberapa perusahaan bidang lainnya, sehingga secara definisi menjadi lebih korporat.

Revenue assurance didefenisikan sebagai metode peningkatan kualitas data dan proses yang dapat meningkatkan keuntungan, pendapatan, dan arus kas tanpa mempengaruhi permintaan. Diartikan juga sebagai terminologi yang meliputi penjabaran aktivitas-aktivitas dimana perusahaan telekomunikasi akan berusaha untuk memastikan bahwa proses-proses dan prosedur-prosedur telah mampu menimalkan kebocoran pendapatan.

Revenue assurance tidak hanya sebatas mengumpulkan pendapatan secara akurat dan tepat waktu tetapi juga berkaitan dengan process assurance, transaction assurance, billing assurance, dan fraud management. Process assurance diselesaikan dengan melakukan pemetaan terhadap seluruh alur kerja untuk mengindentifikasi dan mengukur seluruh titik-titik kendali. Transaksi ditangani dengan cara memastikan ketepatan dalam pesanan dan pengadaan layanan serta ketepatan penyampaian informasi tagihan dimana seluruh transaksi akan diproses dan disesuaikan dengan tarif.

Ada beberapa pendekatan yang dalam melakukan fungsi revenue assurance, antara lain:

1. Reactive revenue assurance,
yaitu fungsi revenue assurance hanya digunakan untuk mendeteksi kebocoran pendapatan yang sedang terjadi.

2. Active revenue assurance,
ditujukan untuk menangani masalah-masalah yang terjadi. Pendekatan ini ditujukan untuk menginisialisasi tanggapan terhadap penanganan kehilangan pendapatan.

3. Proactive revenue assurance,
berupa aksi yang dilakukan untuk mengantisipasi kehilangan pendapatan. Pengendalian dan pengukuran lainnya digunakan dalam rangka mencegah terjadinya permasalahan.

Secara mudah kerangka kerja dari Revenue Assurance dapat diartikan dengan membandingkan data yang sudah dirancang di awal dengan data hasil pelaksanaan proses di lapangan untuk kemudian dianalisis, difilter, dan dievaluasi untuk menyelidiki terjadinya kecurangan dalam proses tersebut sebelum selanjutnya dilakukan proses pelaporan.


Secara umum, teknik yang digunakan dalam revenue assurance ini terbagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Manajemen kecurangan (fraud management),
suatu kegiatan yang ditunjukan untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan dalam suatu siklus penciptaan pendapatan.

2. Verifikasi penagihan (billing verification), suatu metode yang digunakan untuk melakukan validasi dan verifikasi kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam proses penagihan sampai pembayaran.

Penggunaan fungsi revenue assurance dapat memberikan keuntungan diantaranya:

1. Mengidentifikasi kesempatan mendapatkan penghasilan dari pembayaran tunai, penciptaan pendapatan, nilai keuntungan dan target laba.

2. Mengidentifikasi pengukuran dan pencegahan titik-titik risiko dari kebocoran pendapatan.

3. Mengindentifikasi peningkatan proses dan kesempatan perbaikan pendapatan.

4. Mencegah inkonsistensi pada pecatatan penagihan sebelum diserahkan kepada pelanggan dan meningkatkan akurasi penagihan.

5. Mengurani biaya operasional

6. Memfokuskan potensi retensi pembayaran tagihan

7. Melakukan penyebaran pendapatan untuk usaha-usaha yang menguntungkan lainnya.

Penerapan revenue assurance di Perusahaan dapat dielaborasi dengan Balanced Score Card yang merupakan sebuah kumpulan pengukuran yang memberikan menejer-menejer dalam top level suatu pandangan yang cepat dan komprehensif mengenai bisnis, termasuk pengukuran keuangan yang memberikan hasil dari akses yang telah dilakukan dan dilengkapi dengan pengukuran operasional pada kepuasan pelanggan, proses internal, dan inovasi organisasi serta peningkatan pengukuran aktifitas operasional yang merupakan mengarahkan kinerja keuangan dimasa yang akan datang.
Pengukuran di dalam balanced scorecard merujuk pada empat sudut pandang yaitu :
Penggunaan fungsi revenue assurance dapat memberikan keuntungan diantaranya:

1. Sudut pandang keuangan (financial),

2. Sudut pandang pelanggan (customer),

3. Aspek internal bisnis,

4. Aspek pembelajaran dan pertumbuhan.

Dalam hubungannya dengan fungsi revenue assurance, penggunaan balanced scorecard akan difokuskan pada hubungan sebab akibat dari sudut pandang pelanggan dan proses bisnis internal.

Penulis : Holiriyeuh, ST

Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128


Previous
Next Post »