Pelaksanaan Audit Operasional Sebagai Upaya Perbaikan Sistem di Dalam Organisasi

Semakin berkembangnya sebuah organisasi maka semakin banyak pula tantangan yang dihadapi oleh organisasi tersebut. Mulai dari tantangan di luar maupun di dalam organisasi. Dengan adanya tantangan tersebut, organisasi yang ingin terus berkembang perlu memastikan bahwa seluruh sistem yang ada harus terkendali, juga sesuai dengan standar yang dibuat. Untuk memastikan organisasi telah berjalan sesuai dengan standar dan sistem yang seharusnya, organisasi harus teliti dan bersungguh-sungguh dalam melakukan pemeriksaan terhadap sistem yang berjalan di dalam organisasi.

Pemeriksaan yang dibutuhkan oleh organisasi bukan hanya sekedar pemeriksaan keuangan atau audit financial saja, tetapi juga pihak manajemen perusahaan yang harus melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan operasional yang sedang berjalan atau biasa disebut dengan audit operasional. Audit operasional adalah suatu kegiatan evaluasi dari berbagai kegiatan operasional organisasi, tujuannya adalah untuk memastikan ke-efektifan dan ke-efesienan kegiatan operasional di dalam organisasi telah berjalan.

Sebelumnya, pengertian audit menurut Purwono (2014), merupakan sebuah proses sistematis yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki kompetensi dan independensi mengenai perolehan dan penilaian atau bukti secara objektif yang dilakukan dengan pengumpulan dan penilaian dari bukti-bukti informasi yang dapat dikuantifikasikan dan terkait dengan suatu entitas ekonomi tertentu. Terkait tujuan, ialah untuk menentukan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta, untuk mengkomunikasikan hasil-hasilnya kepada pihak yang berkepentingan.

Kesimpulan dari pengertian audit ialah melakukan pemeriksaan dengan membandingkan seluruh bukti atau informasi yang dimiliki, dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh organisasi dan dari hasil perbandingan tersebut akan dihasilkan sebuah temuan.

Baca Juga : Pentingnya Komitmen Organisasi

Audit operasional menurut Agoes, (2008:173) adalah pemeriksaan terhadap kegiatan perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan operasional yang telah ditentukan manajemen untuk mengetahui apakah kegiatan operasional yang telah ditentukan manajemen untuk mengetahui apakah kegiatan operasional tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan ekonomis.

Menurut Arens, Elder, Beasley (2004), audit operasional terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:


1. Fungsional
Audit fungsional berkaitan dengan fungsi yang ada di dalam organisasi. Evaluasi dilakukan untuk memeriksa apakah sebuah fungsi di dalam organisasi sudah berjalan sesuai dengan sebagaimana mestinya. Misalnya audit pada fungsi bagian sumber daya manusia dilakukan untuk mengevaluasi apakah bagian sumber daya manusia sudah berjalan sesuai dengan harapan pihak manajemen.

2. Organisasi
Audit organisasi bertujuan untuk mengevaluasi tata organisasi yang menyangkut keseluruhan unit organisasi, seperti departemen cabang atau anak perusahaan.

3. Penugasan Khusus
Penugasan audit khusus biasanya timbul dikarenakan atas permintaan dari pihak manajemen terkait dengan adanya sebuah temuan dalam pelaksanaan evaluasi / pemeriksaan sebelumnya. 



                                    Baca Juga : ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI



Untuk tahapan audit operasional kurang lebih sama dengan tahapan audit pada umumnya, menurut Bayangkara (2008), tahapan pelaksanaan audit operasional dibagi menjadi lima tahap, yaitu :

1.  Audit Pendahuluan
Tahapan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi latar belakang terhadap objek yang diaudit yang melakukan perencanaan terhadap pelaksanaan audit.

2.  Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen
Pada tahapan ini auditor dapat melakukan review terhadap dokumen maupun informasi yang berkaitan dengan objek yang akan diaudit. Hasil review ini dapat dijadikan untuk menyempurnakan tujuan dari pelaksanaan audit yang sebelumnya telah dirumuskan.

3.  Audit Terinci
Pada tahapan ini audit melakukan pengumpulan seluruh informasi dan bukti untuk mendukung tujuan audit yang telah ditentukan. Pada tahapan ini dilakukan proses membandingkan seluruh bukti audit dan informasi dengan kriterian / standar yang dimiliki oleh perusahaan. 

4.  Pelaporan
Tahapan pelaporan bertujuan untuk mengkomunikasikan seluruh hasil temuan yang telah ditemui oleh auditor kepada pihak yang berkepentingan.

5. Tindak Lanjut
Sebagai tahapan akhir, tahapan tindak lanjut bertujuan untuk mendorong pihak-pihak yang berkepentingan dan berwenang untuk melakukan tindak lanjut dan perbaikan sesuai dengan rekomendasi tindakan perbaikan yang disepakati.



Dengan adanya audit operasional, berarti organisasi telah berupaya untuk melakukan perbaikan terhadap sistem yang ada di dalam organisasi. Karena pada dasarnya kegiatan audit operasional dilakukan untuk mencari penyebab ketidaksesuaian kegiatan operasional yang berjalan dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi. Dengan adanya audit operasional yang dilakukan secara berkala, diharapkan organisasi dapat terus menerus melakukan perbaikan terhadap sistem yang digunakan. Sehingga kegiatan yang ada di dalam organisasi dapat berjalan secara efektif dan efisien.


Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128


Previous
Next Post »