Thinking as Skills

Apakah Anda sedang berfikir saat ini ?
Jika Anda sedang menyusun jawaban untuk pertanyaan tersebut, maka jawabannya adalah “iya”. Berfikir beda dengan melamun, satu hal yang penting yang membedakanya adalah dengan adanya tujuan. Tujuan tersebut bisa berupa mencari akar masalah, memecahkan masalah atau mengambil kesimpulan. Berbagai tujuan ini dapat menjadi satu tujuan sederhana, yaitu menjawab pertanyaan, karena itu “iya” Anda sedang berfikir (Hidayatno, 2013).

Berfikir memiliki tujuan baik untuk mencari akar masalah, memecahkan masalah ataupun mengambil kesimpulan. Adanya proses berfikir tersebut tentu saja dipicu oleh stimulus seperti pertanyaan sebelumnya “Apakah Anda sedang berfikir?”, pemicu atau stimulus ini akan mempengaruhi proses berfikir seseorang. Sebagai contoh, ada sebuah cerita yang cukup populer yang menceritakan ada tiga orang buta yang belum pernah tau seperti apa gajah. Orang pertama menceritakan bahwa dari yang ia pernah dengar gajah itu berbentuk tipis dan lebar seperti karpet, orang kedua membantahnya dan mengatakan bahwa gajah itu berbentuk seperti pipa besar yang menggeliat seperti ular, sedangkan orang yang ketiga mengatakan yang ia ketahui bahwa gajah itu berbentuk seperti tiang yang keras. Untuk membutikan pendapat mereka, maka mereka memutuskan untuk pergi ke kebun binatang untuk membuktikan kebenarannya.

Sampai di kebun binatang, orang pertama memegang kuping gajah dan berkata bahwa benar gajah itu seperti karpet. Orang kedua memegang belalai gajah dan mengatakan gajah memang seperti pipa yang besar, sedangkan orang ketiga memegang kaki gajah dan tetap mengatakan bawah gajah itu seperti tiang.

Apakah pendapat dari ketiga orang tersebut salah?
Pendapat mereka tidak bisa disalahkan tetapi tidak juga dapat dibenarkan 100%. Perbedaan pendapat tersebut bukan karena sudut padang berfikir mereka yang berbeda tetapi lebih dikarenakan informasi yang diterima mereka tidak lengkap sehingga keputusan mereka mengenai gajah tidak sempurna.
Proses berfikir dimulai dengan adanya stimulus yang memicu seseorang tersebut untuk berfikir, untuk berfikir seseorang memerlukan informasi yang cukup untuk berfikir dan mengambil keputusan dari stimulus yang ada dan mengambil tindakan dari keputusan yang diperoleh dari proses berfikir sebelumnya. Semakin banyak informasi yang diperoleh akan semakin baik kita untuk berfikir mengenai permasalahan yang timbul dari stimulus yang diberikan.

Ketika Anda akan pergi kesuatu tempat baru apakah yang akan anda lakukan?
Tentunya akan mencari tahu bagaimana jalan menuju tempat tersebut baik dengan bertanya kepada teman-teman Anda, mencari di google maps atau dengan cari yang lain. Dengan kata lain, Anda mencari informasi sebanyak-banyak mengenai jalan yang harus Anda lewati untuk sampai di tempat baru tersebut, Jika informasi yang anda terima tidak cukup atau salah tentunya Anda tidak akan sampai ditempat baru tersebut dan tersesat. Setelah mendapatkan banyak informasi yang cukup Anda akan dengan mudah membuat keputusan akan ke tempat baru tersebut dengan menggunakan kendaraan apa dan melewati jalur mana agar lebih cepat.
Ketika proses berfikir menjadi sesuatu kebiasaan, informasi yang didapatkan sudah cukup maka apakah Anda masih berfikir untuk hal tersebut? Ketika Anda akan pulang dari tempat kerja Anda yang sudah bertahun-tahun tinggal dan kerja disana, apakah Anda masih akan berfikir pulang lewat jalan mana? Pulang dari tempat kerja yang sama menuju rumah yang sama setiap harinya apakah membuat akan tetap berfikir bagaimana caranya Anda akan pulang? Saat bertemu perempatan jalan apakah Anda masih berfikir harus belok ke kanan, ke kiri atau lurus? Tentu tidak, karena Anda telah membentuk sebuah pola. Pola ini lah yang digunakan untuk situasi yang sama sehingga tidak perlu lagi berfikir. Mirip seperti karate atau pencak silat, kita berlatih refleks sehingga ketika diserang kita dapat menangkisnya.
Pembentukan pola ini untuk menghilangkan kebutuhan berfikir untuk kedua kalinya. Nyatanya kita tidak selalu berfikir setiap saat. Kenapa kita tidak selalu berfikir (De Bono, 1967)?
  1. • Berfikir memerlukan usaha dan energi yang besar
  2. • Manusia adalah mahluk yang pemalas
  3. • Karena kita menggunakan pola berfikir
Jika ditanya apakah Anda mau loncat dari lantai atas ke bawah tanpa pengaman? Anda pasti akan mengatakan tidak. Mengapa begitu cepat Anda akan mengatakan tidak? Apakah Anda berfikir lebih dulu resiko yang akan terjadi apa saja, kemungkinan besar kejadian yang terjadi akan seperti apa? Untung ruginya Anda loncat seperti apa? Jika Anda berfikir sebelum menjawabnya apakah jawaban Anda akan secepat itu? Tidak, anda tidak berfikir mengenai hal itu tetapi Anda menggunakan pola pikir yang sudah ada. Pola pikir itu terbentuk dapat saja dari pengalaman Anda sendiri atau dari yang Anda dengar atau saksikan dari lingkungan sekitar Anda.
“If everyone is thinking alike, then somebody isn’t thinking” (George S. Patton)
Jadi kita berpikir untuk membuat pola pikir agar tidak berpikir.
Pola Pikir Sebagai Sebuah Struktur Pikiran

Pola adalah bentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat, yang mana sesuatu itu dikatakan memamerkan pola.
Pola digunakan untuk mempermudah untuk melakukan sesuatu hal yang sama sehingga tidak perlu membuatnya dari awal tetapi cukup mengikuti polanya saja. Sama seperti pola berfikir, kita tidak perlu lagi berfikir jika menemukan sesuatu yang sama. Tetapi menggunakan pola berfikir dapat saja salah jika menggunakan pola yang sama. Jika bisa saja salah kenapa kita selalu menggunakan pola berfikir? Ada 2 jebakan pola berfikir sehingga kita selalu menggunakan pola berfikir, pertama adalah kemudahan keterdekatan (Nearest easy) yaitu ketika ada permasalahan yang berbeda tetapi memiliki beberapa kesamaan sehingga disama-samakan, kedekatan ini disebut juga kedekatan kerucut undur-undur (Hidayatno, 2013)

Ketika permasalahan dianggap sama maka penyelesaiannya pun akan dilakukan dengan cara yang sama walaupun itu sebenarnya berbeda, sebagai contoh, ketika hanya ada palu sebagai senjata maka semua masalah terlihat seperti paku, jadi untuk memotong paku pun akan menggunakan palu. Bagaimana untuk mengatasi ini? Cara mudahnya adalah anda harus memiliki banyak Pola berfikir yang artinya harus banyak informasi yang dimiliki.
Kedua adalah kesamaan kedekatan (Nearest fit), otak kita selalu memproses apa yang dipaparkan atau apa yang kita hadapi dengan apa yang kita ketahui jika sudah sama dengan apa yang kita ketahui maka otak kita tidak akan bekerja lebih keras karena akan merespon seperti apa sebelumnya yang kita ketahui. Jika tidak ada yang sama barulah otak kita bekerja lebih keras untuk memecahkan masalah yang baru (Hidayatno, 2013).

Tetapi seringkali otak kita membuat struktur yang sebenarnya tidak ada menjadi ada atau melihat sesuatu yang sama menjadi berbeda karena lingkungannya berbeda.

Apakah Anda melihat ada segitiga di tengah?

Apakah anda melihat lingkaran merah pada gambar kiri dan kanan berbeda?

Dampak Negatif Pola Berfikir
  1. • Generalisasi
      Proses kita berfikir secara umum dan mengambil kesimpulan secara umum tanpa berfikir alternatif lain.
  2. • Konstruktif
      Proses dimana kita menkonstruksikan permasalahan secara imajinatif tanpa melibatkan informasi data dan fakta yang cukup.
  3. • Eliminasi
      Proses dimana kita menghilangkan data atau fakta karena kita tidak tahu atau kita tidak mau tahu.
  4. • Pembobotan
      Pembobotan adalah ketika kita memberikan bobot yang lebih banyak kepada informasi yang kita suka dan mengecilkan bobot terhadap informasi yang tidak kita suka.
Dampak Positif dari Pola Berfikir
  1. • Menghindari dari bahaya
      Anda tidak perlu berfikir terhadap cara penanganan terhadap bahaya seperti Anda akan menolak ketika diminta terjun dari lantai atas ke bawah tanpa berfikir lebih dahulu secara sistematis.
  2. • Mengurangi Distraksi
      Dengan menggunakan pola berfikir maka anda akan mengabaikan ganguan-gangguan yang ada.
Kita berpikir untuk suatu tujuan dalam suatu kerangka cara pandang kita berdasarkan kepada asumsi kita terhadap implikasi dan konsekuensi (dari hasil berfikir kita nantinya) menggunakan data, fakta dan pengalaman untuk menyusun hubungan dan pertimbangan berdasarkan pengetahuan konsep dan teori. Nyatanya masalah yang kita hadapi saat ini adalah akibat dari penyelesaian masalah yang kita buat dari cara berfikir sebelumnya. Masalah penting yang kita hadapi sekarang, tidak bisa dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama ketika kita menciptakan mereka (Albert Einstein). Untuk menyelesaikan masalah kita harus merubah cara berfikir kita saat ini dengan cara merubah paradigma kita saat ini.












Penulis: Eko Kusdianto, MT


Previous
Next Post »