Manajemen Risiko

Pertumbuhan dunia industri dan bisnis dewasa ini memerlukan perhitungan serta pertimbangan yang cukup matang dalam setiap pengambilan keputusan yang akan dijalankan; baik dari segi perencanaan untuk mencapai tujuannya maupun dalam minimalisasi risiko buruk yang dapat terjadi. Untuk mencapai tujuan salah satunya dapat menggunakan tools manajemen yang dinamakan Balanced Scorecard (BSC). Sedangkan untuk mengelola risiko yang ada kita dapat menggunakan metodologi manajemen risiko. Manajemen risiko inilah yang akan kita bahas dalam artikel kali ini.
Manajemen risiko adalah suatu metodologi untuk mengenali risiko-risiko apa saja yang bisa dihadapi oleh suatu organisasi dalam mencapai tujuannya, termasuk juga di dalamnya bagaimana menghadapi risiko-risiko tersebut.
Risiko sendiri adalah suatu potensial kejadian, baik yang dapat diperkirakan maupun tidak di masa yang akan datang yang akan dapat mempengaruhi tercapainya strategy objective perusahaan. Risiko dapat dinilai dari dua aspek yaitu probability dan severity.
Secara probability, kita memandang risiko tersebut dari faktor peluang, seberapa besar kemungkinan risiko tersebut dapat terjadi, hal ini dapat juga dilihat dari seberapa sering facktor-faktor yang dapat menyebabkan risiko itu terjadi. Secara severity, kita memandang risiko tersebut dari dampaknya, menganalisa seberapa besarkan dampak yang harus ditanggung oleh perusahaan jika risiko yang dikhawatirkan tersebut terjadi atau menimpa organisasi yang harus kita kelola.

Dengan demikian jika diterapkan secara tepat dan berkesinambungan maka manajemen risiko dapat memberikan manfaat berikut kepada perusahaan, yaitu :
1. Membantu pengelolaan risiko secara lebih baik karena pengelola perusahaan
memahami dengan baik risiko yang ada.
2. Membantu pengambilan keputusan yang lebih baik
3. Mempermudah peningkatan laba perusahaan
4. Mencapai hasil yang lebih baik berupa efisiensi dan efektivitas dalam proses
bisnis.
5. Memberikan dasar penyusunan rencana strategi sebagai hasil dari
pertimbangan yang terstruktur terhadap elemen risiko.

Tools yang sering digunakan pada proses manajemen risiko adalah Risk Map. Risk Map adalah suatu peta yang berisi informasi tentang posisi risiko yang akan dialami oleh perusahaan, dengan menetapkan dimensi risiko ke dalam pengukuran probability dan perkiraan severity risiko.


Pada risk map inilah posisi risiko-risiko yang ada digambarkan pada risk map diatas.
Sumbu y melambangkan probability dari suatu risiko, yaitu peluang terjadinya suatu risiko, makin keatas berarti makin besar peluang suatu risiko dapat terjadi; semakin rendah posisi suatu risiko pada risk map berarti semakin kecil peluang risiko itu terjadi.
Sumbu x melambangkan dampak risiko, yaitu efek yang dialami perusahaan jika risiko tersebut sampai terjadi, makin ke sisi kanan berarti makin besar efek yang ditanggung jika suatu risiko terjadi; semakin ke kiri posisi suatu risiko pada risk map berarti semakin kecil dampak yang harus ditanggung jika risiko itu terjadi.
Perpaduan antara sumbu x dan y inilah yang menentukan posisi suatu risiko.

Risk Map ini dapat digunakan oleh perusahaan pada tahap awal pengidentifikasian risiko yang ada pada perusahaan. Kemudian pada proses pengelolaan risiko, risk map ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk memonitor pergerakan risiko-risiko yang ada dari inherent menuju residual. Inherent adalah posisi pada saat awal risiko tersebut “ditemukan” oleh perusahaan. Residual adalah posisi risiko setelah dilakukan risk treatment yang sesuai terhadapnya.

Risk treatment adalah langkah yang dihadapi untuk mengatasi risiko yang ada, semisal mitigasi. Mitigasi bertujuan untuk mengurangi peluang terjadinya risiko dan/atau mengurangi dampak dari suatu risiko. Penentuan mitigasi yang akan dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penyebab risiko, kondisi perusahaan termasuk kondisi sumber daya perusahaan apakah sudah ada sisi positif yang mencegah terjadinya risiko, juga tingkat kegentingan risiko pada perusahaan.

Secara garis besar berikut adalah tahapan dalam penerapan Risk Management di suatu perusahaan :
1. Sosialisasi Awal
Hal ini dapat berupa sosialisasi kepada penanggung jawab unit kerja yang nantinya diharapkan dapat diteruskan ke seluruh karyawan. Tujuannya adalah agar tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen risiko bagi perusahaan.
2. Identifikasi Risiko & analisa
Proses ini dapat dilakukan dengan wawancara maupun investigasi di lapangan. Tujuannya untuk mengumpulkan data yang valid perihal risiko yang ada di perusahaan. Termasuk di dalam proses ini adalah penempatan risiko-risiko sesuai probability dan severity pada risk map.
3. Penentuan Risk Priority
Memilih risiko-risiko yang paling tepat untuk menjadi prioritas perhatian bagi perusahaan, dengan pertimbangan detail risiko tersebut dan gambaran serta kondisi perusahaan, baik secara internal maupun eksternal.
4. Menyusun Risk Treatment Plan
Menentukan langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh untuk menanggulangi risiko, serta menganalisa sejauh mana hasil yang bisa dicapai atau residual yang bisa diperoleh.
5. Implementasi secara keseluruhan pada setiap level di perusahaan, disertai
dengan monitoring secara berkala. Monitoring disini dapat menggunakan bantuan Risk Map.
6. Evaluasi ulang keseluruhan strategi yang diterapkan pada manajemen resiko
apakah masih sesuai. Jika sudah tidak sesuai, dapat dilakukan penyusunan ulang dimulai dari langkah 1-4.
Previous
Next Post »